We Are Not Selling...Disaster
Friday, 2 January 2009
.

Sebuah berita terkini bertajuk Bencana Besar Ancam Indonesia. Geoscience Australia: Indonesia khususnya beserta negara-negara dalam gugusan asia-pasifik terancam diguncang bencana alam berskala besar (tsunami, gempa bumi, gunung meletus, angin topan) yang bisa merenggut sekitar satu juta orang.

Yang di pucuk gunung bisa mbledhos, yang di pereng bisa dikejar wedhus gembel. Yang di laut bisa karam, yang di bibir pantai bisa diterjang tsunami. Yang di angkasa bisa flying without wings.
Yang di gedung-gedung bisa rubuh karena gempa, yang dalam vila di bukit-bukit bisa kena tanah longsor. Bagi yang mau ngumpet di bunker pun juga bisa dipatuk ular.

Sebuah firman Allah:
Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan untuk mereka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi, tetapi (sayang) mereka mendustakan (ayat-ayat Ku) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka”. (Al `A`raf 96)

Tuhan dengan para malaikatnya, tidak akan kehabisan cara, hanya untuk sekedar mengguncang jagat raya. Menyentil bumi supaya bertabrakan dengan planet-planet hingga menimbulkan ledakan dengan pijaran bunga api ala Happy New Year.

Penanganan bencana yang ter-afdol adalah, senantiasa eling lan waspodo. Eling-lah pada Sang Maha Pembuat bencana, pengatur jagat raya, penggenggam alam semesta. Insyaflah, taubatlah.
Waspadalah terhadap perusakan alam, jangan sering menyakiti ibu pertiwi yang kian menua. Menggunduli mahkotanya yang ijo royo-royo. Menorehkan luka di sekujur tubuhnya dengan aneka ketamakan yang sifatnya hanya nikmat sesaat. Kata-kata “O..iya” setelah bencana dan kiamat tiba hanyalah ungkapan yang sia-sia belaka.

Namun begitu, tidak ada kata terlambat, sesuatu yang harus kita lakukan segera (lagi-lagi) adalah 3M ala AA Gym. Mulai dari diri kita, mulai dari hal-hal kecil, dan mulailah dari sekarang. Better late than nothing.

Dibawah ini secuil kutipan cerita dari Bukunya Cak Nun tentang protes ribuan ruh korban tsunami atas “Kekejaman Tuhan.
*
Rumah-rumah, bangunan dan segala benda ambruk. Ribuan jasad manusia dilemparkan, dibanting, dihimpit, diperhinakan dengan mencampurkannya ke reruntuhan batu bata dan besi. Patahan kayu-kayu bercampur tulang belulang, daging tercabik membusuk bercampur sampah, darah sirna dalam kotoran air dan lumpur.

Teriakan-teriakan takut dan kengerian bertabrakan dengan angin badai dan terpental ke langit. Ribuan ruh-ruh terpental dari jasadnya. Terjerembab, terbanting, terlempar, terseret, napas mereka terengah-engah, tersengal-sengal...

Bahkan tatkala jasad sudah hancur lebur, ruh masih bisa tersengal-sengal. Bahkan hati ini masih ada, diberati oleh duka maha duka. Akal tak ikut mati, terpanggul di pundaknya ketidakmengertian atas semua ini. Tak ngerti yang paling tak ngerti dibanding segala tak ngerti.

Bagai kiamat kecil. Bukan!! ini kiamat besar!!. Siapa gerangan yang tega hati menyelenggarakan kehancuran ini? Makhluk apa gerangan yang tak punya nurani menghajar manusia dengan sambaran raksasa kengerian ini? Siapakah yang akan menyalahkan kami jika sekarang kami menjadi gila? Apakah ada ilmu untuk kami pakai menanggung penderitaan ini?

“Apa-apaan ini Tuhaaaan!!!” terdengar suara satu ruh.
“Ya!!! Apa maksud-Mu!” sahut ratusan ruh lainnya.
“Apakah derita kami adalah makananMu!”
“Apakah bencana sedahsyat ini belum juga membuatMu kenyang!” ribuan ruh menyahut.
“Jawablah!”
“Ya, berbicaralah Tuhan!”, suara seluruh ruh itu membahana.
“Jawablah, wahai Engkau Tuhan yang melakukan semua ini!”
“Berbicaralah wahai Engkau Tuhan yang bikin perkara”
“Wahai Tuhan yang bikin bencana, menciptakan kehancuran!”

Beribu-ribu ruh meraung bersama-sama. Di dalam raungan itu terkandung segalam macam jenis derita dan kegelapan yang pernah dikenal oleh peradaban manusia, namun kadarnya tak tertakar, tak terukur, tak terkirakan.

Tiba-tiba ribuan ruh itu terkurung oleh bola raksasa berwarna putih kebiru-biruan, bagai tabung kaca yang agung. Semua terkesiap. Terdiam. Sunyi senyap. Ruh-ruh itu memandang ke sekeliling bulatan maha besar itu. Inikah alam-barzah? Inikah alam malakut? Ataukah riyah, walayah, atau sudah tiba kami semua di semesta uluhiyah?

Bergemuruh kembali suara ribuan ruh-ruh. Menyerbu ke segala arah di dalam rongga bulatan besar itu. Dan nun diseberang sana, muncul tujuh sosok terbang menuju ke arah mereka. Ribuan ruh-ruh itu tak mengerti apakah harus takut, bingung, atau mencoba mencari sikap yang lain.

“Bencana tetap bencana, ketidakadilan tetap ketidakadilan. Bencana oleh siapa, kekejaman siapa, ketidakadilan siapa yang kalian maksudkan?” kata satu sosok tampaknya pemuka ketujuh sosok itu.
“Tuhan!” ruh-ruh itu serempak
“Tuhan yang bikin bencana, Tuhan yang melakukan kekejaman dan ketidakadilan?”
Ruh-ruh itu sungguh tak mengerti tetapi menjawab serempak : “Yaaa!”
“Sekali lagi aku bertanya: Jadi Tuhan yang menciptakan bencana kekejaman dan ketidakadilan?”
“Ya”
“Sebagaimana Ia menciptakan rezeki, kesantunan dan kearifan?”
“Ya”
“Sebagaimana Ia menciptakan kalian semua manusia, semua heawn, semua alam semesta, langit dan bumi, gunung dan sungai, tanah dan hutan, serta segala apapun tanpa ada sesuatu selain yang Ia ciptakan?”
“Ya”
“Apakah Tuhan menciptakan alam semesta, langit dan bumi, serta kalian semua ini, dengan membeli atau meminjam bahan bakunya dari pihak lain- sebagaimana kaliam membuat nasi dengan membeli beras di pasar?”
“Tidak”
“Apakah ada yang berperan atau memberikan sumbangan sesuatu kepada Tuhan untuk menciptakan segala makhluk itu?”
“Tidak”
“Jadi berapa persenkah saham Tuhan?”
“Seratus persen”
“Kalau begitu adakah pihak lain yang berhak mengambil keputusan apapun selain pemilik saham seratus persen?”
“Tidak ada”
“Apakah Tuhan terikat oleh kewajiban? Kewajiban dalam arti apapun. Apakah Tuhan terikat oleh anggapan-anggapan makhluknya?”
“Tidak”
“Apakah jika semua bencana bagi kalian maka pasti bencana juga bagi Tuhan?”
“Tidak”
“Apakah kalau kalian katakan semua itu adalah kekejaman dan ketidakadilan, maka demikian juga pada pandangan Tuhan?”
"Tidak"
“Tapi kenapa dengan cara yang kejam dan mengerikan?”

“Tuhan senang menyaksikan keteguhan kalian itu. Sehingga sebagian kalian dibebaskan dari kebingunan yang berkepanjangan, dimerdekakan dari bau busuk dunia, dari manipulasi atas nasib kalian, sebagian kalian diberi anugerah oleh Tuhan untuk tidak perlu lagi berpusing-pusing pikiran tentang dunia yang semakin menjijikkan, kebudayan yang membuih, menghewan, serta semakin serakah dan tidak tahu diri. Sebagian kalian dijemput oleh gempa dan ombak raksasa, disongsong oleh para Malaikat, diantarkan langsung menuju sorga yang berderajat sangat tinggi. Kalian semua telah diangkat oleh Tuhan menjadi syuhada, kalian mati syahid, mati dalam keadaan menyaksikan kebobrokan dunia. Kalian menyaksikannya tidak hanya dengan mata dan ilmu, melainkan dengan nyawa dan penderitaan. Itulah semulia-mulia makhluk Tuhan. Ia telah menunggu kalian dengan cintaNya, dan sudah menghapus seluruh dosa kalian selama hidup di dunia”.

“Kalian berpikir dari sudut jasad dan dunia. Gempa itu hanya tanah bergerak, dan tanah, hanyalah sesuatu yang kalian semua pasti akan tinggalkan. Air bah hanya air yang bergerak. Air pun adalah jasad yang pasti akan kalian tinggalkan. Bahkan batang tubuh kalian adalah kerendahan serendah-rendahnya, yang akan segera aus...”

*

posted by Nuga @ 1/02/2009 10:31:00 am

5 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home

 
My Photo
Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

I'm just an ordinary person

Previous Posts
Silahkan Di ISI



  • Status : NuGa
    Visit the Site
    My Link Banner



    eXTReMe Tracker



    Youahie