Jelajah Malam Part Two (Waaouuwww...)
Thursday, 1 May 2008
Dilarang membaca kisah ini bagi yang belum genap 17 tahun, juga bagi pengidap penyakit jantung segeralah berobat. TIDAK ADA GHOST2AN dalam cerita ini. Jadi aman bagi anda yang gampang jantungan. Secara pribadi. Insya Allah tidak ada hal-hal klenik dalam diriku. Hasbunallah wanikmal wakil.

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sudah kubayangkan betapa tempat pertama itu amat mengerikan. Apalagi ini adalah malam hari. Sebuah ketololan yang luar biasa bagiku yang termasuk tipe ‘jirih’ hendak melakukan hal ini. Bayanganku nanti adalah seperti makam yang pernah kulihat dan kuanggap cukup seram. Yaitu sebuah makam di dusun kecil yang sederhana, ditumbuhi pohon kemboja dan Randu Alas yang tinggi menjulang dengan akar luas membentang, menaungi pemakaman. Sehingga di siang hari pun akan tampak gelap dan singup. Sekelilingnya adalah pagar tembok menghijau kehitaman yang sudah ditumbuhi lumut. Menambah seramnya tempat itu. Itu yang ada dipikiranku.

Kira-kira setengah jam setelahnya, kami sudah memasuki dusun itu. Benar saja, dari jauh makam itu sudah terlihat, terletak di antara persawahan, sedangkan sisi lainnya adalah rumah-rumah penduduk. Memasuki areal pemakaman, pertama dilakukan adalah mencari Juru kunci yang katanya rumahnya ada didekatnya. Setelah tanya sana sini, ternyata Bapak juru kunci itu sedang duduk-duduk di pekuburan sambil kedal-kedul merokok. Tampaknya sedang menikmati malam yang cukup cerah, diantara bayangan cungkup-cungkup nisan yang berjajar. Barangkali ini adalah hal yang sangat nikmat baginya.

Aku sedikit lega, makam ini tidak seperti yang kubayangkan. Dibangun sebagaimana tempat-tempat peziarahan pada umumnya. Makam sang tokoh berada dalam rumah berbentuk joglo dan diterangi lampu neon yang cukup terang. Setelah duduk-duduk sebentar dan mengutarakan maksud, Bapak JK (Juru Kunci) membuka pintu dan masuk ke cungkup utama. Tak berapa lama, kami dipersilahkan masuk. Di dalamnya cukup gelap, hanya diterangi oleh satu-satunya lampu minyak (senthir) yang ada diantara dupa dan kekembangan. Makam itu diberi semacam kelambu kain putih. Kupertajam penglihatanku menatap dibalik kelambu, kedua pathok-nya yang berukuran tinggi juga dibalut kain mori putih. Yang mana nantinya banyak peziarah biasanya mengoles2inya dengan semacam minyak misik sampai rata. Aku baru tau hal ini.

Aku duduk dipojok, masih di dalam kamar makam sang tokoh. Gelap sekali, sekelilingnya. Kusandarkan punggungku ke dinding kamar. Karena sedikit ngeri, aku pindah agak ke tengah diantara orang2 itu. Setelah doa-doa, oleh Mas Suto (Ketua Perguruan) masing-masing “dileleti” minyak semacam misik di jidat diantara kedua mata. Sudah bisa ditebak, dimaksudkan supaya bisa melihat hal-hal ghaib.

Aroma minyak menyengat masuk ke hidung. Menambah seram keadaan. Setelah melakukan ini itu, yang aku sendiri tidak mudheng. Karena memang hanya ingin tau tempat2 yang masih asing (belum pernah). Lalu waktu doa-doa lagi, aku mengangkat kedua tangan dan menengadahkan kepala, memohon kepada Allah SWT. Yaa Allah…….dst..dst. Udara malam yang dingin, ternyata tak sanggup menembus dinding tembok makam sehingga di dalam terasa panas, sampai aku merasa kegerahan plus kesemutan karena terlalu lama duduk bersila.

Singkat cerita ….di Lokasi kedua. Masih satu kompleks dengan makam keramat. Kami menuju sebuah tempat yang berjalan menurun, sekelilingnya tampak sepi. Mulailah mas ketua memberi isyarat untuk memulai ‘ritual’ itu. Mereka mulai berpencar dengan jarak renggang-renggang. Aku sendiri berbalik menuju tembok dekat pintu masuk tadi, duduk menunggu. Kupandangi mereka di kejauhan, hanya gelap belaka. Yang tampak hanya kepala2 mereka yang bagaikan bola-bola hitam diterangi cahaya langit.

Seperempat jam kemudian, aku dikejutkan oleh kehadiran sesosok tinggi besar. Rabaanku di kegelapan, dia adalah sosok laki-laki. Perutnya tampak membuncit. Makhluk itu berlalu disamping kananku, lalu ke arah orang2 yang bersemedi, tapi berjalan jauh memutar. Selang beberapa detik, lewat lagi bayangan hitam berupa sosok wanita dari arah yang sama. Dalam perasaan yang tak karuan. Perlahan-lahan jaketku kukerudungkan di kepalaku, supaya sedikit menutupi mukaku.

Sementara teman-temanku sudah larut dalam samadinya madhep wetan jauh di depan sana. Tepat di depanku sesosok wanita berambut panjang itu berhenti berjalan. Hanya berjarak 5 meter dari tempatku berdiri. Sosok itu begitu jelas, walaupun hanya tampak hitam kelabu akibat gelap. Dia tampak membelakangiku, rambutnya panjang terurai sampai punggung. Aku hanya sanggup melirik dengan ujung mataku, kuperhatikan gerak-geriknya. Sosok itu seperti berjongkok, entah apa yang diperbuat, kemudian dengan gerakan halus sekali tubuhnya masuk ke air kolam di depannya. Bergerak ke tengah, lalu entah kemana. Aku sudah enggan melihatnya lagi.

Baru kusadari bahwa semua makhluk yang berada di tempat ini, telanjang bulat. Meskipun sering iseng jeprat-jepret, kali ini aku tidak ingin coba-coba mengeluarkan ponselku untuk sekedar mengambil gambar. Barangkali mereka bisa berang karena ulahku. Jadi ambil posisi aman saja, pura-pura tidak melihat :D

Ternyata tidak hanya dua sosok itu yang hadir disitu. Tapi ada lagi sosok hitam lebih pendek, dan ada pula kemunculan makhluk putih yang selalu membelakangi karena enggan tampak bagian depannya. Siapakah mereka itu? Apakah ada hubungannya dengan makam keramat tersebut? Mari ikuti kisah selanjutnya. Sampaaiii jumpa……..

Coming soon
posted by Nuga @ 5/01/2008 06:33:00 pm

2 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home

 
My Photo
Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

I'm just an ordinary person

Previous Posts
Silahkan Di ISI



  • Status : NuGa
    Visit the Site
    My Link Banner



    eXTReMe Tracker



    Youahie