Akhirnya Nonton Ayat-Ayat Cinta
Thursday, 20 March 2008
Selasa kemarin akhirnya berhasil juga nonton AAC di bioskop. Setelah berdjoang di medan antrian, akhirnya dapatlah kuraih 2 buah tiket. Ya…hanya 2 buah. Karena tidak mudah di “hari gini”, buat nonton film ‘best seller’ dengan hanya lenggang kangkung tanpa perjuangan. Beli sekarang, liatnya besok.

Jujur saja ketika nonton filemnya aku lebih banyak senyum lalu ketawa sendiri. Betapa tidak, Hanung yang seharusnya menghadirkan Cairo (kota menara) dengan keindahan sungai Nil, gurun pasir, kemegahan Al Azhar, pyramid, dan mahattah kereta bawah tanah yang canggih dan modern seperti Paris, ternyata hanya berkutat di seputar Lawang Sewu dan Kota lama saja.

Kami yang notabene orang Semarang, akan merasa susah sekali untuk melambungkan angan tentang keindahan negeri Mesir.
Yang ada di benak kami hanyalah: itu adalah lokasi Lawang Sewu, Kota Lama, Orang-orang Arab Pasar Johar atau Ya’ik Kauman. “Sungai Nil” yang semacam banjir kanal. Metro canggih yang tak lebih seperti kereta Kaligung yang diguncang-guncang atau pemerannya ‘mengguncangkan diri’ (coba perhatikan).

Sebuah Pasar di kota Cairo, berupa sebuah lorong gang di kota lama, dengan orang-orang Arab lalu lalang dan dagangan pasar yang ‘seadanya’.

Tak ada kemewahan dan modern di film itu. Semua serba ala kadarnya. Bangunan-bangunannya berupa rumah tua yang kusam. Barangkali hanya ada mobil Aisha yang bisa dibilang sedikit ‘wah’.

Memang kita semua akan maklum jika membaca proses pembuatannya, namun yang sangat disayangkan adalah tidak bisa syuting di Mesir. Supaya bisa lebih riil dan menambah pengetahuan kita tentang gambaran kebudayaan Islam seperti Al-Azhar, Cairo dengan Masjid2nya.

Dari segi pelaku, aku merasa sosok Maria sudah cukup pas. Sosok Aisha tampak anggun dan cantik saat mengenakan cadar. Sementara tanpa cadar terlihat ‘kurang alim’. Yang tak kumengerti adalah tentang tato yang dipakainya disaat wudhu hendak sholat.
Sosok Fahri tampak terlalu ‘culun’ dan terlalu ceria, sehingga saat sedih dan menangis terlihat tidak maksimal.
Sosok Noura terlalu Indoneisye banget.
Sedangkan pemeran lainnya juga tampak “kurang full” dalam berakting, orang-orang Arab yang berperan dengan ala kadarnya.

Bule dan nenek bule yang kelihatan seperti hanya turis sewaan. Perhatikan nenek bule yang sangat ‘tidak aktif’ malah tampak bingung seperti hendak melakonkan apa.
Pameran lainnya juga menjadi kurang ‘asing’, karena kita sudah begitu paham dengan akting-akting mereka di layar kaca.

Maneuver-manuver Hanung yang membelokan cerita dari aslinya cukup mengejutkan. Misalnya tentang “orang gila”, satu-satunya teman Fahri dalam penjara (membuat penonton yg sudah baca novelnya terpingkal2 karena merasa begitu aneh).
Pesan tentang betapa repotnya poligami, sehingga menyebabkan Maria perlu ‘dimatikan’ supaya Fahri dan Aisha bisa lebih bahagia.

Mengherankan sekali Aisha mondar-mandir di RS saat kehamilannya, juga Fahri yang berkali-kali berteriak-teriak menyuruh Aisha memanggilkan dokter. (lho yang sakit siapa si..hehehe). Moment mematikan Maria dengan cara ketika shalat berjamaah cukup membantu.

Proses pembuatannya sangat menjiwai novelnya, dimana bahwa dalam hidup ini memang tidak akan selalu mulus. Tapi benar-benar dibutuhkan apa yang namanya Sabar & Ikhlas. Karena kenyataan kadang tak seindah harapan.

Sekali lagi Selamat buat Kang Abik, atas kesuksesan novel dan film-nya. Juga buat Hanung Bramantyo yang sukses untuk film AAC nya. Barakallahu. Secara umum film ini bagus. Ditambah lagi dengan alasan proses pembuatan AAC, maka film ini bisa dibilang “Bagus Banget”.

(bukan bermaksud menjelekkan film ini. Aku sendiri sudah menyatakan sejak belum launching, bahwa film ini "Sangat Bagus". Karena negeri ini sudah 'sangat haus' akan film2 semacam ini)
posted by Nuga @ 3/20/2008 06:20:00 am

4 Comments:

  • At 21 March, 2008 20:51 , Blogger Ney Sanov said...

    kenapa gak ke mesir? jawabannya : gak ada dananya :)
    kalo menurutku aku bagus bgt tuh.
    sungguh sebuah pencerahan setelah film2 horor yang judul2nya aneh2 atau film2 yang judulnya transletan ingris indon :)

     
  • At 22 March, 2008 14:02 , Anonymous ninda said...

    Ya lumayan untuk pencerahan setelah ketemu hantu mulu.. bagaikan minum air putih setelah makan singkong sak dandang hahaha.

    Emang sih beda banget sama novelnya. Setelah baca novel, liat film... pengen baca novelnya lagi. ben mateng n gak terpengaruh sama cerita filmnya yg melenceng!

     
  • At 22 March, 2008 16:44 , Anonymous joelypangalila said...

    blas..ndak bisa koment haha....lha orang belum liak pilemnya yak apa...hiya..hiyaa....

     
  • At 23 March, 2008 23:07 , Blogger Kristina DIAN Safitry said...

    buat yang sudah nonton, ceritainke aku yach? kudengarkan sambil tidur2an,he..he..

     

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home

 
My Photo
Name:
Location: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

I'm just an ordinary person

Previous Posts
Silahkan Di ISI



  • Status : NuGa
    Visit the Site
    My Link Banner



    eXTReMe Tracker



    Youahie